84 Persen Sekolah Belum Penuhi Standar Nasional Pendidikan

DESIMINASI: Kanan Kepala Seksi Peningkatan Mutu Pendidikan LPMP NTB, Sya’ban, Kasubag TU LPMP Provinsi NTB, I Made Astawa , dan ketua panitia desiminasi sekolah model LPMP NTB, Lale, Selasa (27/12). (Lukman/Radar Lombok)

MATARAM–Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB pada tahun 2014 menggelar monitoring dan evaluasi terhadap sekolah yang ada di NTB. Hasilnya cukup mencengangkan, ternyata hanya 16 persen sekolah di NTB yang sudah memenuhi standar nasional pendidikan.

Hasil monitoring ini menempatkan sebanyak 80 persen lebih sekolah di NTB belum memenuhi standar nasional pendidikan. “Tahun 2014, 80 persen lebih sekolah di NTB belum memenuhi standar nasional pendidikan,” kata Kepala Sub Bagian Tata usaha (Kasub TU) LPMP NTB, I Made Astawa saat membuka desiminasi pengembangan sekolah model LPMP NTB, Selasa (27/12).

Dikatakannya, standar nasional pendidikan menjadi tuntutan dalam meningkatkan mutu dan kulitas pendidikan di NTB. Salah satunya dengan terus melakukan inovasi dan kreativitas secara kontinyu. Selain itu juga, sekolah hendaknya melakukan terobosan membuat keunggulan khas ataupun lokal yang bisa mengangkat kreativitas dan inovasi di sekolah tersebut secara konsisten.

Sekolah model, lanjut Made, menjadi salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Program ini dimulai pada tahun 2016 untuk menjadi pilot projek peningkatan mutu dan kualitas pendidikan melalui pemenuhan standar nasional pendidikan.

“Penjaminan mutu pendidikan di sekolah itu harus secara utuh dan perlu membuat ekosistem yang baik melalui pelibatan masyarakat. Karena pendidikan itu menjadi tanggungjawab bersama,” jelas Made.

Sementara itu, Kepala Seksi Peningkatan Mutu Pendidikan, LPMP NTB, Sya’ban menyebutkan, pada tahun 2016 ini sebanyak 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di 10 kabupaten/kota di NTB ditunjuk menjadi pilot projek sebagai sekolah model. Sebanyak 10 SMP tersebut diberikan pembinan, pendampingan dalam peningkatan mutu, baik itu secara internal maupun eksternal.

“Setiap sekolah itu diberikan bantuan sebesar Rp15 juta/tahun dan diberikan pendampingan untuk menjadi sekolah model sesuai standar nasional pendidikan,” sebut Sya’ban.

Sya’ban mengatakan, program sekolah model LPMP Provinsi NTB sebagai salah satu kegiatan meningkatan mutu pendidikan di NTB. Dengan peningkatan mutu pendidikan secara internal, maka akan berimbas terhadap sekolah lainnya dalam meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Jika melihat hasil penilaian di akhir tahun 2014, dimana sekolah di NTB hanya 16 persen yang memenuhi standar nasional pendidikan, maka hal tersebut menjadi pelecut bagi sekolah lainnya untuk berlomba-lomba meningatkan mutu. Salah satu caranya adalah dengan secara konsisten menjalankan program yang sudah disusun oleh sekolah. Selain itu, pelibatan masyarakat dalam hal ini wali murid dalam mengkawal berjalannya proses belajar mengajar juga menjadi sangat penting untuk terus menggairahkan guru menghadirkan inovasi dan kreasi, termasuk juga keunggulan lokal di sekolah yang ada di setiap daerah.

“Sekolah model LPMP Provinsi NTB fokus dalam penjaminan mutu melalui pendampingan secara konsisten. Kami berharap kedepan akan semakin banyak sekolah model di NTB dalam rangka peningatan mutu pendidikan yang berkualitas,” pungkasnya. (luk)