67 Orang Tenaga Medis Tertular

JUMPA PERS : Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov NTB menggelar jumpa pers, Rabu siang (27/5).( AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK )
JUMPA PERS : Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov NTB menggelar jumpa pers, Rabu siang (27/5).( AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK )
Advertisement

KABAR duka datang dari tenaga medis di Provinsi NTB. Pertahanan para pejuang garda terdepan yang berperang melawan virus corona ini telah jebol. Puluhan orang tenaga medis sudah terserang Covid-19. 

Fenomena tidak mengenakkan tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka dalam jumpa pers di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi NTB, Rabu siang (27/5). “Awal Mei mulai ada yang tertular tenaga medis. Mungkin kelelahan, makanya jebol,” ungkap Nurhandini Eka Dewi sedih. 

Dituturkan, pihaknya mulai bekerja menangani pasien Covid-19 sejak akhir bulan Februari. Kemudian pertengahan Maret sudah mulai ditemukan pasien positif Covid-19. Hingga bulan April, tidak ada satupun tenaga medis yang terjangkit Covid-19. 

Memasuki bulan Mei, tenaga medis (tenaga kesehatan) mulai tertular. Jumlahnya terus bertambah hingga saat ini. “Ada 7 tempat pelayanan kesehatan yang tenaga kesehatannya kena dan harus diistirahatkan. Sampai sekarang 67 tenaga kesehatan sudah positif Covid-19 atau 11 persen dari kasus yang ada. Sebanyak 64 orang masih dirawat, 3 orang sudah sembuh,” terang Eka didampingi Sekda Provinsi NTB H Lalu Gita Ariadi, Kepala Diskominfotik I Gede Putu Aryadi dan Direktur RSUP NTB dr Lalu Hazmi Fikri. 

Minggu pertama bulan Mei, sebanyak 4 orang tenaga medis terpapar Covid-19. Kemudian tanggal 15-21 Mei sebanyak 26 orang, 22-25 Mei sebanyak 9 orang. Berikutnya dari tanggal 26 Mei hingga saat ini sebanyak 28 orang. Sehingga totalnya 67 orang tenaga medis. 

Para tenaga medis yang sudah dinyatakan positif Covid-19, berprofesi sebagai dokter 8 orang. Kemudian paramedis 54 orang, gizi 1 orang, apoteker/farmasi 3 orang dan radiologi 1 orang. “Nama rumah sakit tidak kami buka untuk menjaga stigma negatif dari masyarakat. Kita tidak ingin masyarakat takut ke rumah sakit tersebut,” ujar Eka. 

Tujuh tempat pelayanan kesehatan tempat tenaga medis tersebut bekerja, terdiri dari 6 rumah sakit dan satu puskesmas. Dari segi umur, mereka yang tertular virus corona masih usia produktif. Sebanyak 28 tenaga medis yang tertular berumur 21-30 tahun, 25 orang berumur 31-40 tahun, 12 orang berumur 41-50 tahun, dan 2 orang berusia di atas 50 tahun. “Kami prihatin. Nakes (tenaga kesehatan, red) sudah kenai keluarganya juga,” sebut Eka. 

Dijelaskan Eka, tenaga medis yang menangani pasien selalu menggunakan alat pelindung diri (APD). Namun bisa saja tertular saat APD dibuka, sementara virus masih ada di sekitarnya. Sebanyak 67 tenaga kesehatan yang positif Covid-19, secara langsung memberikan pengaruh terhadap pelayanan publik. Mengingat, mereka harus diistirahatkan. Termasuk juga tenaga medis lainnya yang pernah kontak berdasarkan hasil tracing. “Berkurang tenaga medis sekarang yang bekerja. Pasien baru juga of diterima, karena fokus pada pasien yang ada juga,” ucapnya. 

Total tenaga medis yang terlibat langsung menangani Covid-19 sebanyak 7.648 orang. Terdiri dari dokter umum lebih dari 200 orang, dokter spesialis paru 9 orang, dokter spesialis anak 42 orang, spesialis penyakit dalam 48 orang, dan lain-lain. Kemudian ditambah dengan perawat. 

Saat ini, cukup banyak tenaga kesehatan yang diistirahatkan. Rekrutmen juga dibuka untuk memenuhi kebutuhan yang ada. “Kita sekarang rekrut tenaga kesehatan juga. Kita kurang 7 orang perawat dan 6 orang dokter. Dari Kementerian ada sih bantuan 19 tenaga kesehatan, itu ditempatkan di RSUP NTB dan rumah sakit darurat,” papar Eka. 

Banyaknya tenaga medis yang sudah terjangkit Covid-19, menjadi alarm bagi masyarakat. Kondisi saat ini sudah semakin berbahaya. “Waspadalah, tenaga kesehatan saja yang pakai APD level II tembus oleh virus corona. Apalagi masyarakat biasa. Masih berani tidak pakai masker? Masih berani tidak taat sosial distancing? Dendek ngampahang (jangan meremehkan). Kita belum bicara klaster Baju Lebaran juga,” kata Eka. 

Direktur Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB, dr Lalu Hazmi Fikri memohon kepada masyarakat agar lebih disiplin lagi. “Kita perlu waspada. Nakes sudah banyak terkena. Memohon dan meminta tolong kepada masyarakat lebih taat dan disiplin,” imbuhnya. 

Di RSUP NTB sendiri, cukup banyak tenaga kesehatan yang sudah terjangkit. Mulai dari dokter, perawat, bahkan manajemen RSUP sudah ada yang positif Covid-19. Padahal, APD yang digunakan level II.

Meskipun begitu, Hamzi Fikri mengaku pihaknya tidak kekurangan tenaga medis. Mengingat, sudah ada tenaga tambahan untuk mem-back up. “Rumah sakit adalah tempat orang sakit, risiko tertular sangat tinggi. Kami sudah lakukan tracing dan of-kan petugas, kami bawa ke Asrama Haji untuk diisolasi. Kemudian kami lakukan swab. Ada risiko kelelahan psikis dan fisik juga di kami. Mohon suport dari masyarakat,” ujarnya.

Jaminan tidak kekurangan tenaga medis ini juga dinyatakan Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, drg Hj Ni Made Ambaryati. Meskipun saat ini banyak tenaga kesehatan di Kabupaten Lombok Barat sedang menjalani karantina di salah satu hotel di kawasan Senggigi, karena terpapar virus Covid-19. Dari data yang dikumpulkan, jumlah tenaga kesehatan dari Kabupaten Lombok Barat yang sudah dinyatakan positif sebanyak 7 orang. Dua orang bertugas di RS Awet Muda Narmada dan lima orang bertugas di RS Patut Patuh Patju (Tripat) Lombok Barat. Sedangkan yang sedang menjalani karantina sebanyak 27 orang. ‘’Kita di Lombok Barat ada 7 tenaga kesehatan yang sudah positif,” ujarnya saat dikonfirmasi, kemarin (27/5).

Para tenaga kesehatan ini, kata Ambar, terpapar transmisi lokal. Tidak diketahui di mana awal mulanya mereka terpapar. Karena bisa jadi mereka juga kena di luar area rumah sakit atau fasilitas kesehatan tempat mereka bekerja. ‘’Kita tidak tahu mereka mungkin ada bekerja di tempat lain selain di rumah sakit,” ungkapnya.

Apalagi para nakes yang terpapar ini, mereka bukan yang bertugas di ruangan isolasi khusus penanganan pasien Covid-19. ‘’Mereka tidak bertugas di ruang isolasi, jadi bisa dikatakan mereka kena transmisi lokal,” tegasnya.

Meskipun mereka tidak di ruang isolasi, namun karena mereka berada di kawasan fasilitas kesehatan yang lalu lalang di rumah sakit, tentunya itu juga sangat berpotensi tertular. Para tenaga kesehatan yang sudah dinyatakan positif sekarang sudah ditangani di rumah sakit, sedangkan rekan mereka yang belum positif masih dikarantina di hotel. ‘’Rekan mereka yang sudah kontak dengan nakes ini sudah ada 27 orang, sekarang masih dikarantina,” katanya.

Totalnya berarti sekitar 34 orang tenaga kesehatan yang sudah dikarantina. Rincinya 7 orang positif dan 27 orang masih menunggu untuk dilakukan swab. ‘’Kalau tenaga kesehatan mereka tidak di-rapid test, tapi langsung di-swab,” jelasnya.

Dengan jumlah yang cukup banyak ini,  tidak akan berdampak terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit. Para tenaga medis yang dikarantina ini polanya satu grup. Jadi mereka yang karantina sekarang ini dalam beberapa waktu ke depan sambil menunggu hasil swab keluar. Kalau hasil swab-nya negatif, mereka dipulangkan dan kembali bekerja seperti semula. ‘’Mereka kan bergiliran di-swab. Jadi tunggu yang ini selesai dulu, karena pelayananan di rumah sakit tidak boleh tutup,” ujarnya.

Ambar juga mengungkapkan, mungkin pola yang diberlakukan adalah dengan mengurangi jumlah kunjungan pasien ke tempat fasilitas kesehatan. Agar para nakes tidak kewalahan juga dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk melakukan pencegahan, selain melakukan karantina kepada para nakes, juga dilakukan tracing kepada keluarga tenaga medis tersebut. ‘’Mereka yang keluarganya nakes sudah positif, keluarga mereka langsung kita swab,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kuripan, Hasbi memprotes rilis tentang pasien positif  yang dikeluarkan gugus tugas Covid-19 Pemprov NTB. Di mana dalam rilis tersebut, salah satu pasien nomor 522 disebut warga Desa Kuripan. Namun tenyata bukan warga Desa Kuripan, melainkan warga Desa Kuripan Utara Kecamatan Kuripan. ‘’Kemarin kami sudah kroscek tidak ada warga saya atas nama itu, makanya saya protes ternyata warga Desa Kuripan Utara,” sesal Hasbi.

Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi sudah mengeluarkan klarifikasi atas rilis yang sudah dikeluarkan pada tanggal 26 Mei. “Pasien 522 sebelumnya tertulis alamat di Desa Kuripan, seharusnya Desa Kuripan Utara,” ujarnya. (zwr/ami)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid