50 Rumah di Sekarbela Siap Jadi Tambahan Penginapan MotoGP

RUMAH WARGA: Baru ada sekitar 50 rumah di Kecamatan Sekarbela yang dinyatakan siap digunakan sebagai penginapan tambahan untuk penonton MotoGP. (IST FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM—Sebagai wilayah yang ditunjuk sebagai pilot projek penyiapan penginapan tambahan dari rumah warga untuk penonton MotoGP. Kecamatan Sekarbela langsung menyiapkan diri dengan mendata rumah warga yang bisa digunakan sebagai penginapan tambahan.

Dari pendataan yang sudah dilaksanakan, ada 50 rumah warga di Kecamatan Sekarbela siap digunakan sebagai penginapan tambahan. “Kami mendata langsung bersama penyedia HIN (Hospitality of Indonesia Network). Sementara ini baru terdata 50 rumah dari 5 kelurahan. Itu sudah siap dan kita serahkan datanya ke Dinas Pariwisata,” ujar Camat Sekarbela, Cahya Samudra di Mataram, Selasa (18/1).

Jumlah rumah yang disiapkan dimungkinkan bertambah. Karena pendataan belum tuntas secara keseluruhan. “Ini jumlah sementara,” imbuhnya.

Rumah yang disiapkan ini cukup beragam. Dari pendataan yang sudah dilakukan dengan turun langsung melakukan pengecekan. Penginapan tambahan ini berupa rumah kos maupun rumah tempat tinggal warga. “Itu ada yang kamar kos. Ada juga rumah warga,” katanya.

Jumlah rumah tersebut kata dia sudah siap digunakan sebagai penginapan tambahan. Lalu nantinya akan dibantu oleh pemerintah untuk ditawarkan kepada penonton MotoGP melalui aplikasi yang disiapkan HIN. “Karena jangan sampai kita dorong masyarakat yang belum siap. Baik dari akses jalannya dan fasilitas kamarnya. Termasuk kipas angin atau AC dan lainnya,” katanya.

BACA JUGA :  Sunarto Didakwa Pasal Berlapis

Merujuk aplikasi yang disiapkan penyedia. Sejumlah kriteria menyertai kelayakan rumah yang digunakan sebagai penginapan tambahan. Terutama memiliki akses jalan. Lalu tempat tidur yang layak dengan kamar mandi dalam. “Kita ingin kamar mandinya di dalam. Karena kita berbicara level Kota Mataram. Jangan sampai kita membantu memasarkan rumah warga yang tidak layak lah,” terangnya.

Sementara untuk harga, jawabannya sama dengan penyampaian penyedia. Yaitu ditentukan langsung oleh pemilik rumah. “Kami tidak masuk ke ranah harga. Nanti masyarakat yang menentukan harganya. Lalu konsumen yang memilih langsung layak tidak dengan harga sekian. Tapi yang dipasarkan memang benar-benar layak. Jangan sampai konsumen kecewa dengan pilihannya,” jelasnya.

Kondisi rumah warga dilaporkan sesuai dengan temuan langsung di lapangan. Karena pemerintah benar-benar memastikan kondisi rumah yang sebenarnya. “Karena jangan sampai foto kamar mandi diambil daro Google misalnya lalu di-upload di aplikasi. Ini yang kita jaga jangan sampai Kota Mataram mendapat citra yang kurang baik,” katanya.

BACA JUGA :  Lagi, Petugas Tertibkan Lapak PKL

Setelah pendataan tuntas secara keseluruhan. HIN dan pemilik rumah dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU). “Itu nanti ada dokumen tertulisnya,” ungkapnya.

Untuk penggunaan rumah warga sebagai penginapan alternatif. Warga Kecamatan Sekarbela disebutnya cukup antusias. Kesempatan tersebut dianggap peluang bagus yang bisa didapat warga masyarakat. “Ini kan belum tuntas pendataan. Bisa jadi nanti bertambah jumlah rumahnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Vice President Marketing HIN, Irvansyah mengatakan, untuk tarif sewa rumah diserahkan langsung kepada pemilik. Karena pada dasarnya, HIN tidak menentukan harga. Tapi mengikuti standar harga yang diberikan pemilik.

Hanya saja kewenangan itu diharapkan tidak dijadikan kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. “Silahkan saja ditentukan harganya. Tapi jangan dinaikkan berlipat-lipat seperti hotel-hotel. Sehingga kalangan yang membutuhkan homestay bisa membandingkan tidak mahal. Tapi kami prinsipnya warga yang menentukan. Kami hanya memproses,” katanya. (gal)