48 Lingkungan Mataram Zona Merah

ZONA MERAH: Warga Kota Mataram harus meningkatkan lagi upaya untuk mematuhi protokol kesehatan, karena 48 Lingkungan saat ini berstatus zona merah. Tampak Gerbang Tembolak, perbatasan antara Kota Mataram dan Lobar. (ALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Jumlah Lingkungan di Kota Mataram yang masuk zona merah penularan Covid-19 bertambah pesat sebulan terakhir. Sebelumnya di awal bulan Juli, dari 425 Lingkungan yang ada di Kota Mataram, hanya satu Lingkungan saja yang zona merah, yakni Lingkungan Sayo Indah.

Namun saat ini jumlahnya bertambah puluhan kali lipat, sebanyak 48 Lingkungan yang zona merah, dengan persentase 15 persen. Selanjutnya zona orange ada 36 Lingkungan (11 persen), zona kuning 117 Lingkungan (36 persen), dan yang masih steril atau zona hijau sebanyak 124 Lingkungan (38 persen).

Jika tidak segera ditangani dengan baik, maka Lingkungan di Kota Mataram dikepung zona merah penyebaran Covid-19. Zona merah ini karena penambahan pasien positif yang cukup signifikan di Kota Mataram.

“Karena kan kasusnya sekarang tinggi naiknya. Makanya kita juga ditetapkan untuk memberlakukan PPKM darurat, yang sekarang berganti nama menjadi level IV. Dari 16 Juli kenaikannya memang banyak,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr H Usman Hadi di Mataram, Selasa kemarin (27/7).

Selain itu, warga masyarakat yang merasakan gejala, dengan cepat memutuskan untuk tes swab, yang dilanjutkan PCR. Hasilnya pun positif Covid-19. “Sekarang memang begitu, bergejala sedikit langsung swab antigen,” katanya.

BACA JUGA :  Mataram dan Lobar Diklaim Masih Harmonis

Kondisi ini harusnya bisa menyadarkan warga masyarakat, bahwa penyebaran Covid-19 belum terhenti. Sementara kunci atau langkah pencegahan yang paling efektif adalah dengan mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan. Sedangkan warga masyarakat masih banyak yang abai. “Kuncinya ya Prokes itu. Kalau taat dengan Prokes, Insyaallah berhenti virus ini,” yakinnya.

Sedangkan yang masih menjadi masalah, banyak warga masyarakat yang tidak mengurangi mobilitas di masa pandemi. “Sekarang ada juga stay (diam) di rumah. Tapi kita yang menghampiri. Jadi harus menggunakan masker itu. Makanya prokes itu sangat penting,” terangnya.

Ditegaskan, Lingkungan yang zona merah dipastikan langsung diatensi. Seperti penelusuran (tracing) yang terus ditingkatkan, dan kemudian juga upaya lainnya. “Testing kita itu juga belum berakhir,” imbuhnya.

Penyebab lainnya, yaitu masih adanya pelaku perjalanan yang datang ke Kota Mataram. Usman mengatakan tidak perlu saling menyalahkan. Karena Kota Mataram sudah menjadi transmisi lokal penyebaran Covid. “Kita sudah tidak tahu di mana yang aman. Karena ini transmisi lokal sudah,” terangnya.

BACA JUGA :  Warga Perumnas Padati Tempat Sholat Idul Adha

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Mahfuddin Noor juga menyampaikan keterangan yang sama. Penambahan pasien positif dengan fluktuasi yang meningkat. “Tentu yang kita laksanakan sesuai dengan arahan. Menerapkan PPKM level IV dengan sejumlah pembatasan,” katanya.

Tentang penyebab meningkatnya lingkungan zona merah. Mahfuddin mengatakan secara teknis Dinas Kesehatan Kota Mataram yang lebih mengetahui. “Yang kami pantau salah satu penyebabnya itu adalah dari pelaku perjalanan dalam negeri. Artinya dari sana ditemukan. Karena dipersyaratkan tes PCR H-2 sebelum keberangkatan dengan hasil negatif. Dari situ muncul beberapa terkonfirmasi positif,” terangnya.

Kemudian muncul pertanyaan tentang efektivitas pemberlakuan PPKM, yang diniatkan untuk menekan penyebaran Covid-19. Tapi yang terjadi malah penambahan pasien positif terus bertambah. “Saya pikir itu kembali kepada kesadaran masyarakat kita. Ini kan masih pandemic, dan yang terkonfirmasi terus meningkat. Jadi memang kita harus bersama-sama untuk memutus mata rantai penyebaran ini. Kalau tidak lebih ketat lagi, angkanya akan terus meningkat. Kita minta kepada masyarakat untuk menahan diri dulu sembari Tim Satgas dan lainnya bekerja lebih optimal,” jelasnya. (gal)