410 Orang Anak di NTB Positif Covid-19

dr Nurhandini Eka Dewi (Faisal Haris/RadarLombok)

MATARAM-Jumlah anak terinfeksi Covid-19 di NTB semakin meningkat. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi menyampaikan hingga saat ini angka kasus anak yang terpapar Covid-19 di NTB sudah mencapai  410 orang. Namun tingkat kesembuhan juga cukup tinggi. “Kasus anak yang positif sebanyak 410, dengan perincian   334 orang sudah sembuh, 69 orang masih dirawat, tujuh orang meninggal dunia,”ungkapnya.

Anak yang positif tersebut, lebih banyak didominasi anak usia sekolah dan remaja. Terdapat 115 orang kelompok usia balita, 295 orang anak usia sekolah dan remaja. Dengan rincian sebanyak 298 orang laki-laki dan 171 orang perempuan.

Sementara itu data Gugus Tugas Provinsi NTB pada Minggu (22/11) terdapat tambahan kasus baru positif sebanyak 15 orang serta satu orang meninggal dunia dan tiga tambahan pasien sembuh. Maka, jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB mencapai 4.609 orang, dengan perincian 3.778 orang sudah sembuh, 246 meninggal dunia, serta 585 orang masih positif.

Menanggapi tingginya angka kasus anak usia sekolah yang terinfeksi virus corona, Wakil Gubernur NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah menegaskan, tidak ada kaitannya dengan dibukanya sekolah yang menyebabkan tingginya angka kasus ini. Sekolah belum secara keseluruhan di buka dengan sistem pembelajaran tatap muka. “Tidak bisa kita klaim karena dibuka sekolah peningkatan kasus anak yang positif Covid. Karena sekolah juga baru beberapa yang buka,”tegasnya.

Ia mengatakan, bagi sekolah yang berada di zona kuning diizinkan membuka sistem pembelajaran tetap muka dengan memperhatikan penerapan protokol kesehatan. Menurutnya dengan dibuka sekolah agar jadikan sebagai media edukasi kepada peserta didik untuk lebih ketat menerapkan protokol Covid-19. “Jadikan sekolah itu sebagai media edukasi untuk anak-anak kita supaya di dalam sekolah full penerapan protokol Covid,”katanya.

Di sekolah peserta didik tidak boleh ada yang tidak menggunakan masker tapi tetap digunakan sampai pulang. Kemudian tetap jaga jarak serta sekolah juga diharapkan bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik serta diajarkan untuk bagaimana mencuci tangan yang baik. “Justru dengan masuknya anak-anak sekolah dijadikan sebagai tempat edukasi, supaya pas pulang ke rumah anak-anak lebih kuat,”sambungnya.

Meski angka kasus anak yang terkonfirmasi positif Covid cukup tinggu, Wagub yang juga selaku ketua Gugus Tugas Provinsi NTB belum ada rencana untuk melakukan rapid test massl di sekolah. “Ya nggak ada rencana (rapid test) di sekolah. Karena yang terpenting anak masuk sekolah tidak boleh kondisi badan dengan suhu tinggi, batuk pilek tidak boleh masuk. Intinya yang sakit tidak boleh masuk,”tegasnya.

Terpisah Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah mengakui angka kasus kematiang di NTB relatif tinggi yang disebabkan banyak masyarakat yang takut ke puskesmas dan ke rumah sakit. “Kematian akibat Covid di NTB relatif tinggi karena pada takut ke puskesmas dan ke rumah sakit. Setelah parah baru ke rumah sakit dan tak tertolong,”akuinya.

“Ayo kita rubah cara berpikirnya.Covid 19 tak perlu ditakuti, ada gejala-gejala segera ke puskesmas atau rumah sakit. Kalau positif ya istirahat mandiri sambil terus menjaga imun dan kebugaran…
Jadi jangan tunggu parah baru ke rumah sakit. Covid bukan momok yang harus ditakuti, jaga jarak, rajin mencuci tangan dan rajin pakai masker, itu saja,”sambungnya.

Meski angka kasus baru dan angka kematian di NTB belum bisa dikendalikan dengan adanya tambahan kasus setiap hari, namun kata gubernur penanganan Covid-19 di NTB dianggap cukup baik dibandingkan daerah-daerah lainnya. “Alhamdulillah, penanganan Covid kita relatif baik di bandingkan dgn daerah-daerah lain,”ucapnya. (sal)