40 Pelajar dan Mahasiswa Idap HIV/AIDS

MATARAM – Jumlah penderita HIV/AIDS di NTB terus bertambah.

Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTB menyebutkan,sampai bulan Juli 2016 tercatat penderitanya  1.208 orang.  Terjadi peningkatan 37 penderita sejak akhir 2015 yang tercatat  1.135 orang.   Dari jumlah itu, penderita  yang meninggal dunia sebanyak  245 orang.

Kepala KPA Provinsi NTB, H Soeharmanto mengungkapkan, setiap tahun jumlah penderita HIV/AIDS yang berhasil dideteksi terus bertambah. “Jumlahnya terus meningkat, karena ini seperti gunung es. Sebanyak 245 penderitanya di NTB telah meninggal dunia,” terangnya saat ditemui Radar Lombok di ruang kerjanya, Jum’at kemarin (23/9).

Pada tahun 2016 ini, penyebab utama seseorang mengidap HIV/AIDS masih didominasi karena heteroseksual atau gonta-ganti pasangan. Jika tahun 2015 lalu faktor heteroseksual sebanyak 728 orang kini bertambah menjadi 813 orang. Sedangkan faktor homoseksual dari 102 orang menjadi 127 orang. “Banyak juga orang homo di NTB ini, itu salah satu penyebab tingginya penderita HIV/AIDS. Ada juga karena faktor lain tapi tidak terlalu banyak,” ungkap Soeharmanto.

Penderita HIV/AIDS ini dari berbagai kalangan. Menariknya, dari kalangan Ibu Rumah Tangga (IRT) terus meningkat dan saat ini sudah mencapai 218 orang. Seorang IRT biasanya mendapatkan penyakit mematikan tersebut dari suaminya yang sering jajan sembarangan di luar rumah.

Selain itu, jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau honorer yang bekerja sebagai abdi negara semakin banyak menderita HIV/AIDS. Jika pada tahun 2015 hanya 47 orang, kini sudah mencapai 52 orang. “Untuk PNS itu jarang yang tes, padahal penting untuk mengetahui statusnya,” katanya.

Kemudian kalangan pelajar dan mahasiswa juga tidak luput dari penyakit mematikan tersebut. Jumlahnya saat ini yang sudah diketahui mencapai 40 orang, jumlah tersebut bisa saja bertambah karena sebagian besar tidak pernah mengikuti tes.

Disampaikan Soeharmanto, Kota Mataram masih menjadi yang tertinggi penderita HIV/AIDS sebanyak 457 orang, kemudian Lombok Timur 196 orang, Lombok Barat 163 orang, Lombok Tengah 157 orang, Sumbawa Barat 49 orang, Sumbawa 44 orang, Lombok Utara 28 orang, Bima 49 orang, Kota Bima 40 orang, Dompu 13 orang dan orang luar daerah yang ada di NTB terdeteksi 12 orang. “Itu jumlah yang ikut tes, kan lebih banyak yang belum tes. Kita perkirakan mungkin ada sekitar tiga ribu orang yang terkena di NTB ini,” ujarnya.

Selain karena faktor masyarakat NTB sendiri, terdapat juga faktor luar yang menyebabkan berkembangnya HIV/AIDS. Misalnya seperti eks Pekerja Seks Komersil (PSK) Dolly dan Kalijodo yang banyak pernah datang ke NTB.

Terkait hal tersebut, Soeharmanto sangat menyesalkan sikap Pemerintah Daerah yang merusak lokalisasi tanpa memberikan solusi lebih baik. Akibatnya, para PSK yang sebelumnya di lokalisasi kini menyebar ke daerah-daerah lain. “Makanya ini juga tetap kita pantau, karena kita juga tidak mau daerah kita rusak karena mereka,” ucapnya.

Selain itu, banyaknya wisatawan juga menjadi pintu masuk penyakit HIV/AIDS semakin berkembang. Pasalnya, sampai saat ini para wisatawan yang datang tidak diketahui apakah mengidap HIV/AIDS atau tidak. “Mereka kan sebentar disini, kita tidak pernah tes mereka. Terus misalnya berhubungan badan dengan orang NTB dan meninggalkan penyakit itu,” ujar Soehermanto.

Untuk mengantisipasi perkembangan HIV/AIDS, KPA Provinsi NTB terus menggalakkan sosialisasi terutama ke kalangan generasi muda yang paling banyak terkena. Dengan sosialisasi tersebut diharapkan anak-anak NTB terhindar dari penyakit HIV/AIDS. (zwr)