37 Positif Covid-19, Cluster Gowa dan Bogor Terbanyak

37 Positif Covid-19
JEMPUT WARGA KONTAK: Pihak PSC RSUD Kota Mataram ketika sedang menjemput salah satu warga yang telah kontak langsung dengan pasien positif corona di Dasan Sari, Karang Baru, Kota Mataram.( ALI/RADAR LOMBOK)

Balita Hingga Remaja Sudah Terjangkit

MATARAM—Jumlah orang yang positif terjangkit virus corona atau Covid-19 di Provinsi NTB tiap hari terus bertambah. Penderita dari cluster Gowa dan cluster Bogor, menjadi yang terbanyak positif Covid-19. Berdasarkan data yang dihimpun Radar Lombok hingga tanggal 12 April 2020, jumlah pasien Covid-19 di NTB sebanyak 37 orang. Sebanyak 4 orang telah sembuh, dan 2 orang meninggal dunia. Kemudian pasien dalam pengawasan (PDP) yang telah meninggal dunia ada sebanyak 11 orang.

Puluhan pasien positif Covid-19 tersebut, sebanyak 11 orang merupakan jamaah tabligh. Mereka terjangkit virus karena sempat pergi ke acara Ijtima’ di Gowa, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Demikian cluster Bogor juga cukup banyak jumlahnya. Awalnya 1 orang yang positif Covid-19, kini sudah berkembang menjadi 11 orang. Jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah kedepannya.

Jamaah tabligh yang pertama kali terdeteksi positif Covid-19, yaitu pasien nomor 03 inisial LJ asal Rembiga, Kota Mataram. Kemudian pasien nomor 07 inisial M asal Bertais. Berikutnya jamaah tabligh pasien nomor 11 inisial N dari Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kemudian pasien nomor 13 inisial LAB dari Narmada, Kabupaten Lombok Barat, dan pasien nomor 19 inisial AS dari Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Pasien nomor 20 inisial MZ dari Cakranegara, Kota Mataram juga seorang jamaah tabligh. Selanjutnya Pasien nomor 15 inisial MA dari Sekarbela, dan pasien nomor 26 inisial SR dari Selong, Kabupaten Lombok Timur, juga jamaah tabligh.

Terbaru, jamaah tabligh yang dinyatakan positif covid-19 yaitu pasien nomor 34 inisial R, dari Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Kemudian pasien nomor 36 inisial S, dari Lingsar juga positif covid-19. “Iya benar, banyak cluster Gowa yang positif covid-19,” terang Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi, kepada Radar Lombok, Minggu (12/4).

Sementara dari cluster Bogor, virus yang dibawa oleh YT atau pasien nomor 04 yang tinggal di Kota Mataram, juga sudah menjalar kemana-mana. YT sendiri orang luar daerah yang menjadi pendeta di Gereja GBIP Mataram, yang saat ini sudah dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit.

YT terjangkit Covid-19 saat mengikuti kegiatan seminar Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) di Hotel Aston, Bogor. Meski sudah sembuh, namun orang yang sudah tertular ada dinyatakan telah meninggal dunia.

Pasien nomor 14 inisial RM asal Kota Mataram telah dinyatakan positif Covid-19, karena tertular oleh YT. Begitu pula dengan pasien nomor 18 inisial YRW yang sudah meninggal dunia saat berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

Selanjutnya pasien perempuan nomor 28 inisial CT dari Sekarbela juga tertular YT. Berikutnya pasien perempuan inisial FYT nomor 29 yang usianya masih 15 tahun dari Sekarbela tertular YT. Termasuk pasien perempuan nomor 30 inisial RA dari Batulayar Kabupaten Lombok Barat, juga ditularkan langsung oleh YT. Terbaru, pasien perempuan nomor 37 inisial NLEY dari Ampenan juga tertular oleh YT.

Penyebaran virus corona tidak berhenti sampai disitu. Pasien RM yang sudah tertular oleh YT, kembali menularkan virus kepada pasien nomor 16 inisial SL.

Informasi yang didapatkan Radar Lombok, pasien nomor 18 inisial YRW yang telah meninggal dunia, juga meninggalkan virus kepada keluarganya. Tercatat istri dan anaknya yaitu pasien nomor 23 inisial MP dan pasien nomor 24 inisial DC yang berusia 19 tahun, telah dinyatakan positif covid-19 karena kontak dengan YRW.

Virus dari cluster Jakarta juga telah tersebar. Diantaranya yang dibawa oleh pimpinan pondok pesantren (Ponpes) di Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, setelah mengikuti acara Muktamar Internasional. Pasien positif covid-19 pertama di NTB adalah perempuan inisial YM dan suaminya MN. Keduanya kemudian dikenal dengan pasien 01 dan 02.

Pasien 01 inisial YM sudah dinyatakan sembuh. Namun virus juga telah menyebar ke pasien perempuan nomor 06 inisial M (06) asal Kabupaten Sumbawa. Keluarganya di lingkungan Ponpes, juga sudah terjangkit Covid-19, yaitu seorang perempuan inisial NM atau dikenal pasien nomor 09. Supir YM, pasien 10 inisial MI, asal Desa Rempung, Kecamatan Peringgasela juga terjangkit Covid-19. Namun saat ini MI sudah dinyatakan sembuh.

Salah seorang pasien nomor 25 inisial MAS, juga sudah dinyatakan positif covid-19. Usianya masih muda sekitar 14 tahun dari Aikmel, karena sudah kontak dengan YM. Belum diketahui pasti apakah MAS merupakan santri Ponpes atau keluarga YM. Namun Minggu malam, MAS dinyatakan telah sembuh.

Cluster Jakarta lainnya pasien 05 inisial JM, dari Dasan Agung, Mataram. JM telah meninggal dunia saat masih berstatus PDP di RSUD Kota Mataram. Meski telah meninggal, namun virus sudah tertular kepada pasien nomor 21 inisial D, asal Monjok.

Virus corona benar-benar penyebarannya sangat cepat. Pasien nomor 21 kemudian menularkan virus kepada pasien perempuan nomor 31 inisial DAR yang usianya baru 15 tahun dari Monjok juga. Bahkan pasien perempuan nomor 32 inisial FNH usia 17 tahun dari Monjok juga tertular dari pasien 21. Termasuk pasien nomor 33 inisial MTS asal Monjok tercatat tertular oleh pasien nomor 21.

Selain dari cluster tersebut, sebagian pasien Covid-19 juga sudah dinyatakan positif covid-19. Salah satunya yang cukup menyita perhatian, yaitu seorang Balita usia 2 tahun asal Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat.

Pasien Balita nomor 27 inisial HW tersebut, belum diketahui tertular oleh siapa. Mengingat HW dan keluarganya tidak pernah ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 juga tidak pernah dilakukan. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik.

Terkait dengan pasien Balita tersebut, dr Nurhandini Eka Dewi menduga sudah ada carrier (pembawa virus) yang tinggal di tengah masyarakat. “NTB khususnya Lombok, adalah daerah yang transmisi lokal sudah berlangsung. Artinya bisa saja ada carrier atau orang yang membawa virus di sekitarnya tanpa gejala,” terang Eka.

Terkait fenomena tersebut, lanjut Eka, sebenarnya sudah ada imbauan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk mengantisipasi hal semacam itu terjadi. “Dalam situasi pandemi ini,  sejak minggu lalu IDAI sudah meminta semua pasien anak dengan pneumonia berat (paru-paru basah, red) di daerah dengan transmisi lokal agar saat dirawat di rumah sakit dijadikan sebagai PDP dan dilakukan swab,” ujar Eka.

Pertimbangannya, terang Eka, karena anak-anak adalah kelompok yang rentan terjangkit Covid-19. Hal yang harus dipahami, dalam keadaan sakit berat sangat mudah tertumpangi oleh covid. “Jadi resiko anak tertular secara epidemiologis yang menjadi dasar pemeriksaan ini. Tapi jangan dibalik, bukan berarti semua pasien pneumonia berat rentan tertular Covid-19. Tapi bisa jadi Covid-19 itulah yang menjadi penyebab pneumonia pada pasien,” ucapnya.

Selain pasien Balita, pemerintah juga terus memberikan perhatian serius kepada seluruh pasien. Upaya tracking (penelusuran) terus dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Pasien lainnya yang sudah dinyatakan Covid-19 yaitu cluster Luar Negeri, pasien nomor 08 inisial H dari Desa Bagu, Lombok Tengah. Namun hingga saat ini, belum ada tambahan pasien positif dari cluster luar negeri.

Tracking juga serius dilakukan untuk pasien perempuan nomor 12 inisial FBM asal Mataram. Pasalnya, FBM tidak pernah ke luar daerah ataupun kontak dengan pasien positif covid-19. Dia hanya pernah kontak dengan orang yang pernah ke daerah terjangkit atau status orang dalam pemantauan (ODP).

Pasien nomor 17 seorang perempuan inisial KP asal Kecamatan Selaparang, juga tidak pernah ke daerah terjangkit. Kontak dengan pasien Covid-19 juga tidak dilakukan. Namun tercatat suaminya memiliki riwayat bepergian ke Bali. Saat ini, suaminya belum dinyatakan positif covid-19.

Sementara pasien perempuan nomor 22 inisial FES dari Ampenan, dinyatakan positif covid-19 karena pernah pergi ke luar daerah. Begitu pula dengan pasien nomor 35 inisial EAP dari Ampenan. Namun EAP sendiri mengaku pernah kontak dengan pasien Positif Covid-19 di Sukabumi, sehingga dirinya terjangkit. “Kita terus lakukan tracking. Termasuk untuk jamaah tabligh,” kata Eka.

Jumlah orang yang positif covid-19 semakin banyak. Namun menumpuk di Pulau Lombok saja, sementara di Pulau Sumbawa masih nihil. Hanya ada satu orang saja positif corona, karena pernah kontak dengan pasien 01 asal Lotim.

Menurut Eka, belum adanya kasus positif di Kabupaten Bima, Kota Bima, Dompu dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), bukan berarti bebas corona. Apalagi jamaah tabligh yang pernah ke Gowa, tersebar di seluruh kabupaten/kota, termasuk ke empat daerah tersebut. “Kalau jamaah tabligh di Pulau Sumbawa sedang bergerak mentracking. Jadi bukan tidak ada, tetapi belum selesai tracking,” jelasnya.

Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB, H Mohammad Rum menyampaikan, informasi yang didapatkan pihaknya, jumlah jamaah tabligh yang telah pergi ke Gowa mencapai 1.200 orang. Namun jumlah pastinya tidak diketahui, mengingat sebagian batal berangkat karena acara di Gowa dibatalkan.

Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov NTB, H Lalu Gita Aryadi melalui rilis menyampaikan, pada hari Sabtu dan Minggu telah pulang 42 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sebanyak 19 orang melalui Bandara Internasional Lombok (BIL) dan 23 orang melalui pintu masuk Pelabuhan Lembar.

Jumlah PDP saat ini sebanyak 141 orang. Sebanyak 65 orang masih dalam pengawasan, sedangkan 76 orang telah selesai. Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya 3.783 orang, namun tinggal 1.437 orang yang masih dipantau.

Jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG), yaitu orang yang kontak dengan pasien positif Covid-19, namun tanpa gejala sebanyak 7.357 orang, terdiri dari 4.826 (66%) orang masih dalam pemantauan dan 2.531 (34%) orang selesai pemantauan.

Sedangkan Pelaku Perjalanan Tanpa Gejala (PPTG), yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 24.191 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 14.337 (59%) orang, dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 9.854 (41%) orang. (zwr)