37 Lahan Pasar Tradisional Di Lombok Tengah Berpeluang Digugat

Pasar Tradisional Di Lombok Tengah
BERSERTIFIKAT: Pasar Barabali menjadi salah satu pasar yang bersertifikat dari 45 pasar di Lombok Tengah, sementara 37 pasar lainnya belum bersertifikat. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Keberadaan pasar tradisional di Lombok Tengah, ternyata belum dilengkapi sertifikat.

Dari 45 pasar tradisional di daerah itu, ada 37 pasar yang masih belum mempunyai status jelas atau belum bersetifikat. Sehingga  keberadaan pasar itu sangat rentan untuk digugat masyarakat. Dari jumlah itu, hanya delapan pasar yang sudah mengantongi sertifikat. Yaitu, pasar Kopang, Barabali, Teratak, Renteng, Bulayak, Mantang, Puyung dan Sengkol. ‘’Nah, sisanya yang 37 itu belum bersertifikat. Makanya kami sedang mengusulkannya dengan harapan mudahan semua bisa bersetifikat mulai tahun depan,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perindag) Lombok Tengah H Saman, Kamis kemarin (8/2).

Menurutnya, dengan belum ada legalitas lahan pasar ini, sangat rentan digugat masyarakat. Bahkan, hal itu sudah terbukti dengan adanya sebagaian pasar yang sekarang masih bersengketa dengan masyarakat. “Sah-sah saja masyarakat mengklaim kalau lahan pasar itu adalah miliknya. Tapi tergantung bukti yang mereka punya,” jelasnya.

Dengan kondisi pasar yang tidak bersertifikat itulah. Sehingga berdampak juga terhadap kerja sama pengelolaan dengan pihak ketiga. Selain itu, karena tidak jelasnya status tanah pasar tradisional ini juga pasar itu belum bisa mendapatkan anggaran untuk rehab dari anggaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBN). “Sertifikasi memang penting dilakukan agar aset yang dimiliki  pemerintah tidak diakui oleh pihak lain. Makanya kami terus mendorong agar bagian aset segera mengurus ini. Jangan terlalu melalaikannya, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya.

Saman juga menjelaskan, akibat belum disertifikasi itulah saat ini banyak pasar yang dinilai tidak efektif. Pasar tersebut terjadi disebabkan banyak faktor. Seperti, jumlah pedagang yang sedikit sehingga ditinggal pembeli dan pasar juga berada di pelosok desa yang jauh dari akses masyarakat  dan lahan pasar yang masih belum jelas statusnya. “Sehingga untuk maksimalkan lahan di pasar itu, salah satu caranya adalah dengan dialihfungsikan dan alih kelola. Kami akan lakukan secara bertahap, tidak bisa di setiap pasar sekaligus,” tambahnya.

Dicontohkan Saman, pasar Desa Beleka Kecamatan Praya Timur akan dialih pengelolaanya menjadi pasar seni untuk mendukung objek wisata yang semakin berkembang. Begitu pula dengan Sukarara dan pasar Sintung. “Dinas juga akan melakukan penataan kembali lapak-lapak pedagang agar terlihat rapi. Agar mereka mampu bersaing dengan pasar modern yang sekarang kian marak,” ungkapnya.

Ditambahkan, pihaknya berharap dengan pengalihfungsian tiga pasar ini bisa mengoptimalkan kembali keberadaannya. Lantaran fasilitas di pasar-pasar tersebut hampir semua sudah ada. Sehingga sia-sia kalau tidak digunakan secara optimal. Bukan itu saja, prekonomian masyarakat juga akan terus meningkat. “Sebab kalau pasar itu sudah jadi pastinya produk-produk warga akan masuk dan terjual di sana,” tandasnya. (cr-met)

loading...