3000 Anak SMA Putus Sekolah

  H Aidy Furqan (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Angka putus sekolah jenjang SMA/SMK sederajat di NTB setiap tahun masih ditemukan. Bahkah data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB tahun 2021 mencapai 3000 anak yang putus sekolah. “Angka putus sekolah kita setiap tahun itu selalu ada. Menjelang ujian yang cukup banyak,” ungkapnya Kepala Dikbud Provinsi NTB, H Aidy Furqan saat ditemui Radar Lombok saat di komplekS kantor Gubernur NTB.

Furqan menyebutkan ada tiga penyebab anak putus sekolah. Pertama mereka memilih bekerja, kedua memilih menikah atau dinikahi dan ketiga kerena faktor sosial. Misalnya mereka dari segi emosional atau contoh sederhannya mereka pernah kecelakaan (hamil di luar nikah) sehingga malu sekolah lagi. “Dari angka anak yang putus sekolah ini, saya sudah beri ruang untuk mengikuti sekolah terbuka. Dan saat ini sudah 1540-an anak terdaftar dan aktif sekolah di SMA terbuka pada 17 sekolah. Karena angka kita yang masih drop out itu, masih 0,2 persen. Ya kurang lebih sekitar tiga ribuan anak yang putus sekolah tahun ini,” sebutnya.

BACA JUGA :  Kota Mataram Juara Duta Sanitasi Tingkat NTB

Dari angka 3000 anak yang putus sekolah tersebut, kata Furqan, pihaknya belum dapat memastikan apakah mereka masih ada di NTB atau sudah tidak di NTB. Atau sudah ada yang sudah sekolah di tempat yang berbeda. “Tapi fantastis tahun ini sudah ada 1540-an yang sudah mendaftar dan aktif menjadi siswa kita di sekolah terbuka,” katanya.

Furqan menegaskan bahwa sebaran anak yang putus sekolah bervariasi di NTB. Tetapi dari angka tersebut tersebar di SMA/SMK sederajat, baik yang ada di pulau Lombok maupun sekolah yang ada di pulau Sumbawa. Belum terhitung sekolah di bawah naungan kabupaten kota yakni sekolah SD maupun SMP. “Yang jelas pulau Lombok yang lebih banyak,” tegasnya.
Oleh sebab itu, Furqon berkomitmen untuk dapat menyelamatkan anak-anak yang putus sekolah yang disebabkan olej berbagai faktor tersebut. Salah satunya dengan membuka sekolah terbuka untuk mereka untuk dapat melanjutkan sekolahnya. “Tapi saya harus selamatkan mereka. Dan ternyata setelah saya buka ruangnya (sekolah terbuka) banyak yang ikut,” tuturnya.

BACA JUGA :  Belasan Pelajar Lombok Utara Ditemukan Nongkrong Saat Jam Belajar

Bagi mereka yang mengikuti sekolah terbukan ini, kata Furqon, setelah selesai mengikuti ujian dan dinyatan lulus tentu akan mendapatkan ijazah seperti sekolah formal. “Jadi nanti mereka dapat ijazah SMA-nya. Lain dengan sekolah paket C yang sekolah non formal. Tapi kalau ini formal yang difasilitasi melalui sekolah terbuka,” katanya.

Karena dalam proses belajar mengajar di sekolah terbuka, lanjutnya, tetap menggunakan sistem tatap muka terbatas yang kemudian diberikan penugasan-penugasa sama halnya dengan orang kuliah diperguruan tinggi. “Tinggal pada saat mereka ujian itu meraka ke sekolahan. Intinya full tiga tahun juga mereka sekolah sama seperti sekolah formal lainnya. Hanya dalam seminggu mereka dijadwalkan masuk dua kali,” sambungnya.

Sedangkan untuk pelaksanaan ujian, katanya, mereka yang mengikuti sekolah terbuka dilaksanakan pada sore hari. Tidak digabungkan dengan sekolah formal yang menggunakan seragam lengkap. “Jadi kalau ujian itu ada yang pakai sendal, bawa anaknya dan lain sebagainya. Karena kalau kita samakan seperti sekolah formal nanti putus lagi sekolahnya,” pungkasnya. (sal)