30 Persen Bangunan di Museum NTB Rusak

MUSEUM-NTB
MUSEUM NTB: Pakar kuliner Indonesia, Wiliam Wongso, ketika berkunjung dan melihat aneka koleksi benda-benda bersejarah yang terpajang di ruang pamer Museum Negeri NTB. (DOK/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Bencana gempa bumi yang melanda pulau Lombok beberapa bulan lalu, ternyata juga merusak sejumlah bangunan yang ada di kompleks Museum Negeri NTB. Bahkan dari sebanyak 20 bangunan yang ada, 30 persen diantaranya rusak parah, dan tidak bisa difungsikan kembali.

“Banyak gedung yang rusak dan tidak bisa difungsikan. Sehingga mau tidak mau harus dirobohkan, dan dibangun ulang kembali. Diantaranya yang rusak itu adalah gedung aula (auditorium), laboratorium, perkantoran, dan gudang penyimpanan koleksi benda-benda bersejarah,” kata Kepala Museum Negeri NTB, Drs Zubair Muslim, kepada Radar Lombok, Kamis kemarin (13/12).

Yang mendesak untuk dibangun kembali sambung Zubair, yakni gudang penyimpanan. Mengingat saat ini, puluhan ribu benda-benda bersejarah koleksi Museum NTB, terpaksa untuk sementara dipindahkan ke bangunan lain yang dari sisi keamanan kurang menjamin.

Disampaikan, Museum Negeri NTB memiliki 7.689 koleksi benda-benda bersejarah peninggalan masyarakat NTB di masa lalu. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10 persen saja yang dipajang di ruang pamer museum, dan sisanya yang 90 persen seharusnya tersimpan di gudang penyimpanan.

“Namun karena gudang penyimpanan rusak (roboh), terpaksa benda-benda bersejarah itu kita pindahkan ke ruang pameran kontemporer, yang sebenarnya tidak aman untuk menyimpan benda-benda koleksi. Karena faktor kelembaban, suhu, dan lainnya itu dapat mempengaruhi dan merusak benda-benda bersejarah,” jelas Zubair.

Karena itu lanjut Zubair, mengapa saat ini pihaknya sedang memprioritaskan pembangunan gudang penyimpanan, dan satu lagi yakni auditorium yang juga penting keberadaannya untuk menunjang berbagai aktifitas atau kegiatan Museum Negeri NTB.

“Alhamdulillah, tahun 2019 mendatang, bersamaan dengan 114 museum lainnya yang ada di Indonesia, kita (Museum NTB) juga mendapatkan dukungan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 1,8 miliar dari pemerintah pusat. Dana itu akan dimanfaatkan untuk pencitraan, atau menghidupkan kembali berbagai program yang ada di Museum NTB,” ujar Zubair.

“Dari sebanyak Rp 1,8 miliar anggaran DAK yang kita terima. Sesuai Juklak/Juknis-nya akan dimanfaatkan untuk pengelolaan koleksi sebesar 35 persen, program publik sebesar 45 persen, dan sisanya 20 persen untuk pengelolaan asset,” jelas Zubair.

Diakui Zubair, paska gempa memang ada beberapa upaya yang telah dilakukan pihaknya untuk mengembalikan kecintaan masyarakat agar kembali berkunjung ke Museum NTB. Diantaranya menggelar dialog dengan masyarakat melalui siaran radio RRI Mataram, maupun menjalin kerjasama dengan pihak lain agar menginformasikan bahwa saat ini berkunjung ke Museum NTB sangat aman, dengan hastag yang digaungkan #Ayo ke Museum.

“Aapalagi berdasarkan pemeriksaan yang pernah dilakukan pihak Dinas PU dan Australia paska gempa. Selain dari 30 persen bangunan yang rusak, gedung lainnya di Museum NTB seperti ruang pamer dinyatakan sangat aman untuk dikunjungi. Insya Allah, dengan dilakukannya pembangunan berbagai gedung yang rusak saat ini, tahun 2019 mendatang Museum NTB sudah beroperasional normal kembali,” pungkas Zubair. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid