264 Kasus DBD Ditemukan Dalam Sebulan

MATARAM – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi momok bagi masyarakat. Baru satu bulan saja telah ditemukan 264 orang masyarakat NTB terkena DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengungkapkan, kasus DBD telah tersebar di seluruh Provinsi NTB. Hal ini disebabkan genangan air akibat hujan yang turun. "Untuk tahun 2017, sampai dengan minggu ini sudah ada 264 kasus DBD," terangnya kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (1/2).

Meski ratusan kasus telah ditemukan, namun Eka memastikan belum ada pasien yang sampai meninggal dunia tahun ini. Berbeda halnya dengan tahun 2016 lalu, jumlah korban meninggal dunia akibat DBD mencapai 27 orang. Angka tersebut sangat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 3 orang saja.

[postingan number=3 tag=”dbd”]

Jumlah kasus DBD pun tahun lalu sangat tinggi hampir mencapai 3 ribu. Penyebab utamanya cuaca hujan yang tidak menentu sehingga terjadi sepanjang tahun. "Sekarang banjir dimana-mana, makanya sudah banyak yang terkena DBD," kata Eka.

Sejauh ini, kasus DBD terbanyak ditemukan di Lombok Timur. Kemudian di Sumbawa dan Kota Mataram. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan hasil temuan tahun lalu dengan kasus tertinggi di kabupaten Lombok Timur.

BACA JUGA :  281 Warga Terjangkit DBD, Dua Meninggal Dunia

Terkait dengan adanya isu bahwa telah ada pasien meninggal dunia akibat DBD di Lombok Timur dan Lombok Utara, sekali lagi Eka membantahnya. Sampai saat ini dipastikan belum ada pasien DBD yang telah meninggal dunia.

Berbeda halnya dengan tahun lalu yang telah merenggut nyawa 27 orang. Pasien yang meninggal dunia itu berasal dari Lombok Timur 9 orang, kota Mataram 8 orang, kota Bima 4 orang, Lombok Barat 3 orang, Sumbawa 2 orang dan Lombok Tengah 1 orang. "Untuk yang di KLU juga sudah diklarifikasi bahwa bukan meninggal karena DBD," tegasnya.

Melihat situasi saat ini, Eka meminta kepada seluruh masyarakat NTB untuk mewaspadai DBD. Beberapa hal yang harus dilakukan yaitu menjaga kebersihan lingkungan di sekitar rumahnya. Tempat-tempat genangan air juga harus dibersihkan agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Dinas Kesehatan Provinsi NTB sendiri, telah melakukan kaporisasi untuk mencegah kuman pada sumur-sumur warga. Hal itu untuk memberikan kenyamanan dan jaminan kesehatan bagi warga dalam menggunakan air sumur. "Kita sudah lakukan kaporisasi, petugas sudah turun kok," katanya.

BACA JUGA :  Derita Istiarah, Gadis Penyandang Tumor Ganas

Ketua komisi V DPRD NTB, Hj Wartiah memberikan perhatian serius terhadap DBD. Jumlah penderita DBD yang telah mencapai 264 kasus bukan hal sepele. Dinas Kesehatan diminta untuk mampu meminimalisir korban bertambah. "Langkah preventif itu lebih penting daripada mengobati, ini yang harus disadari," ujarnya.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini meminta semua pihak untuk bercermin lagi. Tahun lalu, puluhan nyawa telah melayang dan ribuan masyarakat NTB terkapar sakit akibat DBD. Jangan sampai, duka itu kembali lagi tahun ini.

Kerjasama semua pihak terkait harus segera dilakukan. Dinas Kesehatan tidak boleh hanya bergerak sendiri dan mengabaikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain. "Untuk mengatasi DBD itu gak bisa Dikes sendiri, gandeng dinas PU untuk urus drainase misalnya. Pokoknya semua harus bekerjasama," tutup Wartiah. (zwr)