24 Desa Belum Bebas BABS

PHBS: Wakil Bupati Lombok Utara Sarifudin bersama Dinas Kesehatan dan pelajar mengkampanyekan cuci tangan dengan sabun salah satu komponen dari kegiatan PHBS (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG-Dinas Kesehatan merilis ada 24 desa di Lombok Utara, belum bebas dari prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Salah satu indikatornya adalah bebas buang air besar sembarangan (BABS). Hal ini mengingat kondisi saat ini terjadi transisi pola penyakit. Yang dulu tidak menular sekarang menular disebabkan faktor lingkungan. Pada kegiatan PHBS ada lima komponen yang dinilai, yakni stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, tata cara mengolah sampah, mengolah air minum, dan sepal. ‘’Jika ini tidak dilakukan maka akan bisa mengarah ke penyakit menular,’’ papar Kabid Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Lombok Utara, Syamsul Bahri selepas pembukaan acara PHBS di lapangan umum Desa Rempek Kecamatan Gangga, Senin (28/11).

Berdasarkan data, lanjut Syamsul, masyarakat Lombok Utara yang sudah mampu merubah PHBS baru tercapai 76,90 persen. Kemudian dilihat dari jumlah desa yang belum bebas dari pembuangan air besar sembarangan sebanyak sembilan desa terdiri dari Desa Gili Indah, Desa Teniga, Desa Gondang, Desa Rempek, dan beberapa desa lainnya. "Masih banyak desa yang belum bebas air besar sembarangan. Makanya kami mendeklarasikan stop buang air besar sembarang tempat," tegasnya.  

Menurutnya, indikator kesehatan yang masuk penilaian IPM. Yaitu kesehatan ibu dana anak, kematian bayi dan anak, gizi buruk, dan lingkungan. Keempat indikator sebagai kegiatan prioritas yang harus mampu dituntaskan Dinas Kesehatan. Sedangkan PHBS separuh dari bagian penilaian tersebut. "Baru bisa tercapai indikator IPM jika bisa tercapai ini," katanya. 

Sementara Wakil Bupati Lombok Utara, Sarifuin mengapreasi kegiatan Dinas Kesehatan untuk terus merubah perilaku kebiasaan masyarakat yang awalnya tidak bagus menjadi lebih bagus, sehat, dan bersih. Kegiatan yang dilakukan tentu untuk mendukung pemerintah dalam mengejar IPM pada indikator kesehatan. "Mudah-mudahan ini bisa berjalan terus, dan harus melihat sampel-sampel lain yang belum tersentuh sanitasi, terutama desa-desa yang jauh dari pusat informasi," tegasnya.

Ia juga mengingatkan kepada Dinas Kesehatan terkait peralihan musim yang akan berimbas banyaknya muncul penyakit-penyakit seperti demam berdarah. Pada akhir pekan lalu saja ia mendapatkan 4 pasien demam berdarah yang dirawat di Puskesmas Kayangan. "Tolong teman-teman Dikes fokus, ini lebih masuk rumah sakit karena demam berdarah, ini yg perlu dipercepat. Minimal harus melakukan foging dilakukan segera," pinta mantan anggota DPRD provinsi ini. 

Untuk mencapai target IPM bidang kesehatan, ia optimis akan bisa tercapai. Pasalnya, penilaian IPM yang paling mendasar pada pelayanan kesehatan di masing-masing puskesmas dan rumah sakit. Oleh karena itu, ia menghimbau kepada seluruh puskesmas dan rumah sakit terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. "Dikes harus cepat respon terhadap persoalan-persoalan itu, jangan sampai tidak memberikan pelayanan maksimal kepada pasien. Karena masih banyak yang belum maksimal memberikan pelayanan," bebernya.

Selain itu, ia juga mengajak kepada masyarakat untuk meningkatkan wawasan pada bidang kesehatan terutama di penyakit-penyakit yang cepat menular berbasis lingkungan. Begitu juga, kepala puskesmas jangan sampai loyo menghadapi persoalan yang cukup serius ini. Jika dibandingkan dengan daerah lain, Lombok Utara harus mampu mengejar kekurangan IPM tersebut. "Ini harus disosialisasikan dengan genjar untuk kesadaran diri. Seperti cacingan, diare. Ini harus bebas kan ini  penyakit klasik. Semoga bisa tercapai 100 persen," harapnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid