2020 NTB Stop Kirim Bibit Sapi Keluar Daerah

2020 NTB Stop Kirim Bibit Sapi Keluar Daerah
TERNAK SAPI : Peternak sapi di kaki di gunung Rinjani, Sembalun menggembalakan ratusan ekor sapi di padang savanna.( LUKMAN HAKIM/ RADAR LOMBOK )

MATARAM – Provinsi NTB selama ini rutin menyuplai kebutuhan bibit ternak sapi untuk sejumlah daerah di Indonesia. Selain itu, NTB juga rutin setiap tahunnya mengirim sapi potong untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di beberapa daerah. Hanya saja, mulai 2020 mendatang Pemprov NTB menetapkan tidak lagi mengirim bibit sapi keluar daerah.

Penghentian pengiriman sapi potong dan bibit ke daerah lain tersebut sudah disepakati oleh pemerintah kabupaten yang menjadi sentra produksi sapi di NTB. Kebijakan tersebut telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan mulai 2020 sudah tidak ada lagi pengiriman, baik itu untuk bibit sapi maupun sapi potong.

“Kita sudah tidak lagi mengirim bibit sapi potong hidup dalam rangka menumbuhkan industrialisasi di daerah,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB H Budi Septiani, Sabtu (21/12).

Dikatakannya, NTB selama ini setiap tahunnya menargetkan banyaknya bibit sapi yang dikirim keluar daerah, karena beberapa wilayah ada yang mengalami defisit daging sapi.

“Tahun 2019 ini saja ditargetkan sebanyak 15 ribu ekor sapi potong yang dikirim keluar NTB,” sebutnya. 

Pengiriman keluar daerah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di sejumlah daerah. Mengingat NTB mengalami surplus daging sapi. Namun, jika ada permintaan kerja sama untuk penyediaan bibit sapi dari luar daerah, maka akan dipenuhi, hanya saja khusus pada lebaran Idul Adha saja.

Disisi lain, daerah-daerah biasanya menerima bibit sapi akan digantikan dengan daging sapi, agar dapat memenuhi kebutuhan mereka. Artinya, setiap daerah harus mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah NTB.

Dari Kementerian Pertanian saat ini tengah melakukan pengolahan data, terhadap beberapa daerah yang mengalami defisit daging sapi. Dimana nantinya permintaan akan daging sapi dapat dipenuhi oleh daerah yang mengalami surplus.

“Jadi mungkin data itu dibisa lihat dimana daerah-daerah yang defisit dan tidak, agar satu pintu,” ucapnya.

Dijelaskannya, perbandingan populasi Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa selisihnya 100 ribu ekor. Dimana Lombok sekitar 500-an ribu ekor, sedangkan Sumbawa 600-an ribu ekor. Berdasarkan hasil perhitungan masing-masing kabupaten/kota, ternyata di Lombok yang surplus populasi sapi hanya di Kabupaten Lombok Utara. Sedangkan empat kabupaten/kota lainnya kurang dari kebutuhan.

“Untuk itu, sapi dari Sumbawa itu dikirim ke Lombok, karena permintaannya banyak,” ujarnya.

diketahui, jumlah populasi sapi di NTB sebanyak 1.242.749 ekor. Diantaranya Kota Mataram sebanyak 2.289 ekor, Lombok Barat 118.373 ekor, Lombok Tengah 182.120 ekor, dan Lombok Utara 93.675 ekor. Kemudian Lombok Timur 140.782 ekor , Sumbawa Barat 71.869 ekor, Sumbawa 260.041 ekor, Dompu 142.947 ekor, Kabupaten Bima 206.134 ekor, dan sebanyak 24.513 ekor di Kota Bima.

“Untuk data produksinya itu mencapai 22.295 ton per tahun dan tingkat konsumsi 21.784 ton per tahunnya,” jelasnya. (dev)