2018, Kepastian Rinjani Menuju Geopark Dunia

Rinjani
Rinjani

MATARAM – Langkah Gunung Rinjani menjadi situs warisan dunia atau lebih dikenal dengan sebutan geopark dunia kian menjadi kenyataan.

Pasalnya, berbagai persyaratan untuk memenuhi Rinjani sebagai geopark dunia sudah lengkap termasuk 10 catatan rekomendasi dari pihak United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang berkantor pusat di Perancis. Selain itu, pihak pemerintah pusat juga sudah mengirimkan berkas-berkas dokumen kepada Unesco. “Komite Nasional Indonesia Unesco (KNIU) sudah menyerahkan seluruh dokumen pengusulan Geopark Rinjani dan tanggal 19-23 September 2017 mendatang akan ada rapat pembahasan oleh tim Unesco di Cina,” kata General Manager (GM) Geopark Rinjani, Chairul Machsul, kemarin.

Dikatakannya, berbagai dokumen yang terkait persyaratan yang didokumentasikan dalam buku setebal 230 halaman tersebut, sudah dipelajari oleh sejumlah ahli dari Unesco. Setelah mempelajari dokumen berbagai persyaratan dan catatan rekomendasi yang sudah dilengkapi oleh tim Geopark Rinjani di Provinsi NTB dan pemerintah pusat, akhirnya para ahli dari Unesco tersebut menyepakati untuk menindaklanjutinya dengan pembahasan lebih detail dan sebagai penentu apakah Geopark Rinjani lolos diterima dalam Unesco atau justru sebaliknya.

“Untuk pengumuman apakah Gunung Rinjani lolos masuk warisan dunia Geopark Rinjani itu pada Maret tahun 2018 mendatang,” kata Chairul.

Lebih lanjut Chairul mengatakan, untuk menuju warisan dunia yang masuk dalam daftar Unesco, diberikan tenggang waktu selama dua tahun terhitung dari tahun 2016 hingga 2019 mendatang. Namun, karena bebagai kelengkapan dan 10 catatan yang direkomenasikan oleh Unesco sudah rampung semuanya untuk dipenuhi, maka tim dari pemerintah pusat mempercepat pengajuannya.

“Tim dari kementerian akan mengirimkan semua berkas usulan Georpark Rinjani pada minggu pertama Agustus 2017,” terangnya.

Sebelumnya, untuk melengkapi berbagai catatan yang kurang, Pemprov NTB bersama Kementerian Pariwisata  RI dan pihak terkait lainnya telah menggelar seminar Babad Lombok sebagai wahana untuk menggali berbagai peninggalan bersejarah letusan Gunung Samalas (Gunung Rinjani). Hasilnya untuk mencari dimensi dan literasi budaya terkait catatan tentang letusan Gunung Samalas. Bahkan, sejumlah desa-desa dalam Babad Sasak itu dimasukkan juga, untuk melengkapi data letusan Gunung Samalas dan berbagai dukungan terkait lainnya.

Jika sebelumnya pihak Unesco hanya memasukan kawasan Gunung Rinjani, seperti seluruh daerah di Kabupaten Lombok Utara, sebagian utara Kabupaten Lombok Tengah, sebagian kecil Lombok Barat, Kota Mataram sebagian utara dan Lombok Timur sebagian utaranya, namun berkembang dengan ingin memasukan seluruh wilayah Pulau Lombok.

“Usulan pertama geopark Lombok, wilayahnya semua Pulau Lombok, tapi diminta kurangi, sekarang Unesco mereka meminta lagi agar seluruh pulau Lombok. Seperti kepulauan Jeju Cina. Kebetulan juga Lombok punya banyak situs -situs yang mendukung geopark Lombok,” jelas Chairul.

Chairul mengatakan, berbagai potensi yang dimiiki geopark Rinjani, diantaranya memiliki 22 situ geologi. Diantaranya, Kaldera Samalas, Gunungapi Barujari, Gunungapi Rinjani, Danau Segara Anak, Aik Kalaq, Gua Susu, Gua Payung, Charcoal Letusan Samalas, Lembah Sembalun, mata air panas Sebau, pantai vulkanik. Selanjutnya ada gili, air terjun di Gangga, air terjun di Kayangan, air terjun di Bayan, air terjun di Kerandangan dan Senggigi, air terjun di Aik Berik, air terjun Joben, air terjun Jeruk Manis, air terjun Semporonan – Timbanuh, mata air Narmada dan mata air Lemor.

Selanjutnya, ada 8 situs biologi, diantaranya, Tahura Nuraksa Sesaot, Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Suranadi, Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Krandangan, Kawasan Konservasi Perairan Nasional Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Selain itu ada juga 17 situ budaya, antara lain, Pura Meru, Taman Lingsar, Perkampungan Tradisional Kr Bayan, Taman Suranadi, Taman Narmada, Makam Batulayar, Pura Batu Bolong, Mesjid Lokaq Sesait, Masjid Kuno Gumantar, Perkampungan Tradisional Segenter, Masjid Beleq Bayan, Perkampungan Tradisional Senaru, Danau Segara Anak, Lembah Sembalun, Desa Tradisional Sembalun, Masjid Kota Raja dan Makam Selaparang.  (luk)