19 Kerbau Dekat Sirkuit Mandalika Mati Mendadak

MATI: Kerbau milik warga di Desa Kuta, Kecamatan Pujut mati mendadak. (IST/RADAR LOMBOK)

PRAYA–Belasan kerbau warga di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah dekat Sirkuit Mandalika tiba- tiba mati mendadak. Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti meninggalnya kerbau tersebut.

Salah seorang warga Desa Kuta Kecamatan Pujut, Rico Mahesa ketika dikonfirmasi membenarkan belasan kerbau milik warga mati secara mendadak. Ini kejadian pertama dan sampai dengan saat ini belum diketahui penyebabnya. Aumsi yang berkembang ada yang bilang karena penyakit.

“Dalam tiga hari sudah 15 ekor yang mati, bahkan hari ini bertambah menjadi 19 ekor. Kata pemilik akibat ruge (penyakit,red) tapi banyak yang berasumsi karena amdal. Dan selama ini belum ada kejadian seperti ini, seumur hidup tumben ini,” ungkap Rico Mahesa saat dihubungi Radar Lombok, Jumat (10/9)

Pihaknya menegaskan bahwa kerbau ini milik warga Dusun Ketapang, Desa Kuta tepatnya berdekatan dengan Masjid Nurul Bilad. “Semalam saya langsung ke sana ada 15 yang mati dan hari ini ada empat jadi totalnya 19. Kemungkinan bertambah,” terangnya.

BACA JUGA :  Jadwal World Superbike di Sirkuit Mandalika Dimundurkan

Sementara itu, Sekertaris Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah, Fathurrahman yang dikonfirmasi Radar Lombok membenarkan kejadian kerbau mati itu. Namun ia juga belum bisa membeberkan penyebab kematian. Petugas dari dinas sedang turun ke lapangan untuk mendalami kejadian ini.

“Tim surveilans sedang bekerja ke lokasi, sebenarnya kemarin sudah ada penanganan dari dokter hewan di Pujut dan sudah dikandangkan. Cuma pemilik mengeluarkan lagi dari kandang, padahal kerbau belum sehat. Memang ada sakit dan kepastian sakitnya ini, kita juga sudah kerja sama dengan tim dari Provinsi,” terangnya.

Pihaknya mengaku bahwa kejadian ini tidak hanya terjadi di wilayah Kecamatan Pujut, tapi terjadi juga di wilayah Kecamatan Praya Barat. Sehingga dinas mengambil langkah preventif dan mengundang tenaga ahli dari provinsi untuk mengetahui penyebab kematian kerbau.

“Sudah kita periksa karena kita pikir penyakit SE (Septicaemia Epizootica) tapi ternyata hasilnya negatif, makanya kita mau turun lagi untuk pemeriksaan. Ini ada tim teknis dan memang belum ada hasilnya, kalau adanya indikasi- indikasi nanti dari hasil pemeriksaan yang menentukan. Kita tidak berani terlalu cepat mengambil kesimpulan, apakah ini memang sengaja oleh manusia atau karena faktor alam,” terangnya.

BACA JUGA :  Jelang WSBK 2021 dan MotoGP 2022, Wagub Minta RS di NTB Terintegrasi

Pihaknya tidak menapikan jika kerbau ini mati mendadak, namun pihaknya mengaku jika mati mendadak di hewan ini sering terjadi, namun pihaknya belum mengetahui secara pasti jumlah kerbau yang mati mendadak saat ini. Karena memang oleh dinas masih melakukan pendataan.

“Provinsi juga karena menjadikan ini sebagai atensi, maka kita cukup hati- hati juga, karena inikan ada banyak berseliweran informasi di bawah. Intinya kami sudah menurunkan tim dan tim sedang bekerja. Ini tidak hanya terjadi di Kuta, tapi terjadi juga di Kecamatan Praya Barat, tapi penyakit SE ini di Praya Barat hasilnya negatif,” terangnya. (met)