18 Tahun Ahda Toriq Tergolek Melawan Penyakit Hidrosefalus

HIDROSEFALUS
HIDROSEFALUS: Ahda Toriq, penderita penyakit hidrosefalus ketika dijenguk oleh Babinkamtibmas Pringgasela, Yudi Andika. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Penyakit hidrosefalus tentu sudah tidak asing lagi kita dengar, karena banyak menyerang Balita dan bayi. Ciri-ciri penderita penyakit ini, korban akan megalami penumpukan cairan di kepala, sehingga menjadi besar.


JANWARI IRWAN – LOTIM


ADALAH Ahda Toriq, penderita penyakit hidrosefalus, putera dari pasangan suami isteri, Pathul Mudin dan Hatimah, yang berasal dari Desa Pringgesela, Kecamatan Pringgesela, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Ahda Toriq bahkan telah menderita penyakit ini sejak masih berusia 2 bulan.

Meski sudah sering dibawa ke dokter, namun penyakit yang dideritanya sejak masih bayi, hingga kini berusia 18 tahun, tak juga berhasil disembuhkan. Namun demikian, dibalik perjuangannya melawan penyakit hidrosefalus selama belasan tahun, Ahda Toriq dapat dikatakan adalah anak yang pintar dan cerdas, meski tidak pernah mengemban bangku pendidikan formal.

Buktinya, anak yang  sejak lahir tidak pernah bermain bersama teman seusianya ini ternyata mampu memahami bahasa-bahasa daerah yang ada di Lotim. Bahkan Bahasa Indonesia juga sangat dikuasai, meski tidak pernah menginjak bangku sekolah. ”Kalau bahasa sekitar sini, seperti Bahasa Pringgesela, Rempung dan wilayah lainnya dia bisa. Termasuk Bahasa Indonesia juga lancar,” terang ibunya, Hatimah, Kamis (20/4).

Diceritakan, penyakit hidrosefalus yang diderita anaknya ini dahulu sebenarnya bisa diobati. Hanya saja karena saat itu tidak ada biaya, membuat dia tidak bisa memberikan pengobatan yang sesuai untuk anaknya itu.

”Pada saat itu yang dapat saya lakukan hanya bisa terus berdoa, agar ada orang mau menolong anaknya yang sedang membutuhkan pertolongan ini,” tutur Hatimah, seraya menundukkan kepalanya.

Usia tiga tahun anaknya menderita penyakit hidrosefalus, kemudian datang seorang  dermawan dari Australia, yang membantu merawat dan mengobati penyakit anaknya. Namun karena sudah terlanjur lama, penyakit anaknya itu tidak bisa diobati sampai sekarang.

Meski terlihat sakit, namun dari suara dan tingkah laku anaknya termasuk normal. Bahkan dibalik penyakit yang dideritanya sejak kecil itu, Ahda Toriq sendiri merupakan anak yang rajin berpuasa. ”Yang saya bangga sama anak saya, meski sakit dia bisa mengaji dan rajin mengerjakan puasa. Bahkan ketika Ramadhan tidak pernah bolong puasanya,” ujar Hatimah sambil mengusap kepala anaknya.

Ditanyakan apakah pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah? Dengan lemah Hatimah menggeleng. “Waktu itu memang banyak dari pejabat yang datang untuk melihat kondisi anaknya. Akan tetapi mereka hanya datang melihat, dan tak pernah datang lagi,” bebernya.

Sementara Ahda Toriq, ketika diajak berbincang mengaku sangat senang makan roti dan makanan-makanan empuk lainnya yang mudah dikunyah. ”Kalau kita lihat, dia itu suka dengan semua makanan. Bahkan nafsu makannya melebihi orang normal,” sahut neneknya, Hariati. (*)