16.508 Warga KLU Masih Buta Aksara

TANJUNG-Sebanyak 16.508 warga Kabupaten Lombok Utara (KLU) tercatat masih mengalami buta aksara.

Hal tersebut diketahui berdasarkan rilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui Neraca Pendidikan Daerah (NPD) tahun 2015. “Jumlah angka buta aksara di Kabupaten Lombok Utara menurut data yang dirilis oleh Kemendikbud RI melalui Neraca Pendiikan Daerah (NPD) tahun 2015 berjumlah 16.508 orang. Angka yang tentunya sangat tinggi dan akan menjadi tugas kita bersama untuk menuntaskan permasalahan buta aksara ini,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) KLU, Suhrawardi, di sela-sela peresmian kampung keaksaraan di Dusun Gelumpang Desa Akar-akar Kecamatan Bayan, Jumat kemarin (5/8).

Dalam rangka menuntaskan masalah buta aksara ini kata Suhrawardi, pihaknya bersama lembaga mitra di lapangan akan membelajarkan 540 orang dengan masing-masing 270 orang di Desa Salut Kecamatan Kayangan dan 270 orang di Dusun Gelumpang Desa Akar-Akar. “Program ini kami laksanakan dengan menggunakan system block area dan selanjutnya akan dikembangkan menjadi sebuah kampung keaksaraan. Di kampung ini nantinya akan memiliki lembaga TBM (Taman Bacaan Masyarakat) dengan sistem pengelolaan yang memberikan pinjam pakai buku bacaan untuk masing-masing rumah warga,” terangnya.

Peresmian kampung keaksaraan ini kata Suhrawardi, merupakan bentuk dari keterbukaan pelaksanaan dalam mengentaskan buta aksara, karena selama ini kesan yang timbul di masyarakat hanyalah formalitas belaka. Dalam pelaksanaan program ini sendiri, Dikbudpora bersinergi dengan Lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam hal keaksaraan dan Klub Baca Perempuan dalam kaitannya dengan TBM. Kemudian untuk tim monitoring dan evaluasi melibatkan Kepala Dusun, Kepala Desa dan serta UPTD Dikbudpora Kecamatan. “Kita berharap program ini dapat berhasil dengan baik sehingga bisa menjadi contoh untuk pelaksanaan program di tahun-tahun yang akan datang,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Bupati KLU, Sarifudin yang didaulat untuk meresmikan kampung keaksaraan ini mempertanyakan soal tingginya angka buta aksara di KLU yang mencapai 16.508 atau 5,5 persen dari total penduduk KLU. Menurut mantan Ketua Komisi II DPRD NTB ini, pada  tahun 2013, Pemerintah Provinsi NTB memberikan penghargaan bahwa KLU terbebas buta aksara. “Pertanyaan ada apa, sudah diberikan penghargaan tapi kenyataan masih ada yang tidak bisa baca. Apakah ini laporan asal-asalan, atau memang BPS (Badan Pusat Statistik) yang salah melakukan pendataan. Harus cari benang merah. Antara SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan BPS harus bersinergi,” tegas Sekretaris DPD Partai Gerindra NTB ini.

Menurut Sarifudin, persoalan buta aksara ini harus segera dientaskan dan dalam hal ini pemerintah melakukan intervensi. Salah satunya dengan meresmikan kampung keaksaraan demi meningkatkan intensitas belajar mengenal huruf hingga mendapatkan ijasah paket A nantinya. “Saya yakin, masih banyak warga belum punya ijasah, apalagi ijasah Paket A. Zaman sekarang rugi tidak bisa membaca. Orang barat sudah naik bulan, kita baru belajar membaca,” terangnya. (zul)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid