12.500 Ton Beras Impor Kembali Masuk ke NTB

BERAS IMPOR: Untuk mencukupi kebutuhan cadangan beras pemerintah di NTB, Bulog telah mendatangkan 12.500 ton beras dari Vietnam dan provinsi lain di Indonesia. (DOK/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB melaporkan jumlah beras yang masuk ke Perum Bulog NTB hingga April 2024 mencapai 12.500 ton. Dimana sekitar 10.500 ton beras itu didatangkan dari Vietnam, ditambah 2.000 ton adalah beras move dari provinsi lain.

“Impor ini untuk stok pangan nasional di NTB. Bahkan kalau bicara stok pangan, kita masih belum mencukupi. Karena NTB targetnya 200 ribu ton, sekarang yang ada di Bulog sekitar 50 ribu ton,” ungkap Kepala BPS NTB, Wahyudin saat ditemui di Kantor Gubernur NTB, kemarin.

Wahyudin mengatakan beras dari luar ini didatangkan, meskipun NTB surplus produksi beras. Alasannya, surplus beras itu tidak hanya dimanfaatkan di NTB, tetapi juga dibawa keluar daerah, seperti ke Jawa, Bali dan NTT. “Beras itu masuk perdagangan bebas. Tidak bisa kita hentikan. Kalau gabah bisa dihentikan,” ujarnya.

Kendati didatangkan dari luar daerah, Wahyudin memastikan beras impor tidak mempengaruhi harga di NTB, mengingat saat beras didatangkan petani sedang panen.

“Panen sudah selesai di NTB. Sekarang mulai tanam, makanya harga sedikit naik. Naiknya baru sekitar setengah persen. Tetapi yang setengah persen itu jangan dianggap main-main, karena kalau harga beras naik bisa jadi inflasi,” terangnya.

Wahyudin menyatakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras sudah naik. Untuk beras medium HPP naik dari Rp10.900 per kilogram, menjadi Rp12.300 per kilogram. Sedangkan HPP beras premium dari sebelumnya Rp12.500 per kilogram, naik menjadi Rp13.500 per kilogram.

Baca Juga :  Pj Gubernur Diperiksa KPK Jadi Saksi Kasus Korupsi Mantan Wali Kota Bima

Jika bicara daya beli masyarakat sambung Wahyudin, ketika harga naik, maka akan mengurangi daya beli. Tapi karena beras ini harganya sekarang masih di kisaran Rp11.500 sampai Rp15.500 per kilogram, sehingga relatif masih aman.

“Biasanya masyarakat beli yang harga Rp12.000 sampai Rp13.000 per kilogram. Jadi memang tidak terlalu besar pengaruhnya, karena masih di kisaran harga yang dibeli masyarakat, walaupun ada kenaikan,” jelasnya.

Disampaikan, kenaikan harga beras masih terjadi di sejumlah daerah di NTB dalam beberapa pekan terakhir. BPS mencatat sampai pekan kedua Juni 2024 ini, harga beras masih mengalami kenaikan. Dia menyoroti salah satu komoditas bahan pokok itu akan kembali menjadi penyumbang inflasi pada Juni 2024 nanti.

Gejolak harga beras yang terjadi saat ini sangat menentukan kondisi inflasi daerah. Jika harga beras naik, maka akan berpotensi mendongkrak inflasi NTB. Disisi lain, jika kebutuhan pangan itu turun, maka terjadi deflasi.

Maka dalam upaya pengendalian harga beras di lapangan, BPS menyarankan agar menggelar operasi pasar. “Harga beras mulai beranjak naik. Coba diantisipasi, karena beras itu menyumbang bobot paling tinggi terhadap komoditas lain,” jelasnya.

Terpisah, Manager Pengadaan Perum Bulog NTB, Dian Istifana mengatakan kedatangan 10 ribu ton lebih beras dari Vietnam, adalah untuk kebutuhan cadangan pemerintah. Untuk penyerapan gabah petani, Bulog menggunakan dua skema, yakni penugasan secara PSO untuk cadangan pangan pemerintah, dan secara komersial.

Baca Juga :  Mantan Wali Kota Bima Ditahan KPK

Jika harga gabah melalui skema pembelian PSO, masih menggunakan harga Bapanas, maka Bulog pasti akan menyerap gabah petani. Namun jika harga gabah yang dibandrol petani lewat dari harga yang ditetapkan Bapanas, otomatis Bulog akan melakukan pola komersial.

“Untuk cadangan pemerintah, pasti kita akan menyerap selama harga itu masih didalam harga koridor Bapanas. Cuma kalau harga itu diluar Bapanas, kita pakai skema komersial,” ujarnya.

Bulog memastikan akan menyerap gabah petani sebanyak-banyaknya. Tercatat sampai saat ini Bulog sudah menyerap gabah petani setara beras sekitar 41 ribu ton. Sedangkan target penyerapan gabah Bulog sebanyak 49 ribu ton. “Tinggal 8 ribu ton lagi. Jadi sudah 80 persen lah realisasi kita,” ucapnya.

Pihaknya tidak membantah jika harga beras di tingkat produsen memang naik. Kenaikan harga beras ini disebabkan karena panen raya yang telah selesai dan stok beras mulai berkurang. “Harga sudah mulai naik, karena panen sudah selesai. Sedangkan demand (permintaan) masih stabil, sementara suplai sudah mulai berkurang. Jadi beras mulai naik,” ucapnya.

Untuk menstabilkan harga beras di pasar, Bulog kata Dian, tetap masih melakukan gerakan operasi pasar di sejumlah tempat. “Terus kita lakukan. Permintaan dinas-dinas banyak (operasi pasar murah, red). Ini seluruh NTB dan masih berjalan,” tutupnya. (rat)

Komentar Anda