10 Saksi dari Ponpes Al-Aziziyah Diperiksa Hingga Malam

DIPERIKSA: Satreskrim kembali memeriksa 10 saksi dari kalangan Ponpes Al-Aziziyah terkait dugaan penganiayaan terhadap Nurul Izzati (13), salah satu santriwati setempat. (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Penyidikan dugaan penganiayaan terhadap Nurul Izzati (13), salah satu santriwati Ponpes Al-Aziziyah, Gunungsari, Lombok Barat yang kini meninggal dunia terus berlanjut.

Senin (8/7) kemarin, sebanyak 10 saksi dari ponpes diperiksa penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Mataram dari 11 saksi yang dilayangkan surat panggilan. “Iya, sebanyak 10 saksi diperiksa hari ini, 1 saksi tidak hadir,” ucap Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama, Senin (8/7).

Rincian saksi yang diperiksa itu dari santriwati 5 orang, dan 5 lainnya guru Ponpes Al-Aziziyah. Dari pantauan Radar Lombok, para saksi diperiksa sekitar pukul 10.00 WITA. Hingga pukul 18.30 WITA, para saksi masih diperiksa. “Yang diperiksa itu dari santriwati dan guru,” sebutnya.

Santriwati didampingi pekerja sosial (peksos). Sedangkan saksi dari kalangan guru, pemeriksaannya didampingi kuasa hukum dari Ponpes Al-Aziziyah. Berdasarkan informasi yang dihimpun, santriwati yang diperiksa selanjutnya akan didampingi dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram.

Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi yang ditemui di Unit PPA Polresta Mataram, membenarkan pihaknya akan memberikan pendampingan pemeriksaan terhadap santriwati, berdasarkan permintaan dari pihak ponpes. “Intinya, (ponpes) mengharapkan bantuan LPA Kota Mataram untuk mendampingi anak-anak,” ungkap Joko Jumadi.

Joko menilai permintaan dari Ponpes Al-Aziziyah dalam pendampingan santriwati tersebut terbilang bagus. “Saya pikir ini cukup bagus untuk menunjukkan sikap terbukanya ponpes,” katanya.

Tak dipungkiri, selama kasus dugaan penganiayaan ini berjalan, LPA Kota Mataram mendampingi korban. Namun, dengan adanya permintaan dari Ponpes Al-Aziziyah, ia juga memberikan pendampingan ke saksi yang masih di bawah umur. “Kita hanya melihat ini anak yang harus mendapatkan pendampingan. Kita tidak melihat saksi, korban atau pelaku. Ini karena anak yang dilindungi,” sebutnya.

Dikatakan, hari ini ada 5 saksi dari santriwati yang dimintai keterangan. Sebelumnya pada Kamis (4/7) lalu, ada 2 santriwati telah diperiksa. Sehingga total santriwati yang dimintai keterangan sejauh ini sebanyak 7 orang. “Kemungkinan ada pemeriksaan lanjutan. Kami juga akan menyiapkan tenaga psikologi, bagaimanapun anak-anak harus didampingi,” katanya.

Satu orang saksi yang tidak hadir dalam pemanggilan yang dilayangkan penyidik pada Jumat (5/7) kemarin itu dari kalangan santriwati. Santriwati itu berada di Bima dan saat ini masih dalam perjalanan kembali ke ponpes.

“Ada pemeriksaan hari Kamis (11/7), tapi kami minta didampingi psikolog dulu baru diperiksa. Karenanya bagaimanapun menjalani pemeriksaan bukan hal mudah. Bagi anak-anak itu menegangkan. Kami minta data awal sebelum pemeriksaan, sehingga bisa menyerahkan dan menentukan pendampingan,” tutup Joko.

Untuk diketahui, pada Jumat (5/7), Satreskrim Polresta Mataram turun ke Ponpes Al-Aziziyah usai memeriksa sedikitnya 4 saksi dari kalangan ponpes. Sebelumnya, penyidik juga telah memeriksa 10 saksi di Lotim. Rinciannya, 7 saksi dari kalangan tenaga kesehatan yang pernah menangani Nurul Izzati saat berobat dan 3 orang keluarga teman korban, yang membawa korban berobat.

Nurul Izzati menghembuskan napas terakhir di Ruang ICU RSUD dr Raden Soedjono Selong, Lotim pada Sabtu (29/6) lalu usai koma beberapa hari. Sebelum menjalani perawatan di RSUD dr Raden Soedjono, korban pernah dirawat di salah satu klinik dan puskesmas di wilayah Lotim.

Hasil pemeriksaan dokter di rumah sakit, ditemukan mata kiri korban dalam kondisi bengkak dan di bagian kepala santriwati kelas 7 asal Desa Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, NTT ini terdapat sebuah benjolan yang diduga akibat benda tumpul. (sid)

Komentar Anda